Alamat Kami : Jalan Gunung Pandau Desa Balida Rt. 01

Selamat Datang

Galeri Kegiatan Karang Taruna Garuda Jaya Desa Balida

Galeri Kegiatan

GARUDA JAYA

Foto Kegiatan

Karang Taruna Garuda Jaya Desa Balida

Pembagian Sertipikat Tanah Gratis

Karang Taruna Garuda Jaya Desa Balida

Desa Balida Lakukan Sinergitas Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dari Dana Desa

Desa Balida – Menghindari berkumpulnya warga dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dan situasi di tengah pandemi virus Corona. Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana  Desa di Desa Balida, disampaikan dari rumah kerumah hal itu keterangan dari Kepala Desa Balida yang penyalurannya didampingi oleh Bhabinkamtibmas Polsek Paringin, Koramil Paringin dan Pihak Kecamatan Paringin pada siang hari ini. Rabu, ( 13/5 ).

Dalam kegiatan pembagian BLT dari dana desa Tersebut nampak di dukung dari unsur -unsur Bhabinkamtibmas Polsek Paringin, Babinsa Koramil Paringin, Pegai Kantor Camat Paringin, BPD, LINMAS dan pemdamping desa yang tergabung dalam Relawan penanggulangan Covid 19 desa balida.

Bantuan Langsung Tunai dari Dana Desa Balida untuk bulan April tersebut diterimakan kepada 91 Kepala Keluarga, masing-masing sebesar Rp. 600.000,-.  Dengan kategori penerima BLT adalah warga miskin terdampak corona, lansia dan menderita sakit menahun. Hal itu dikatakan oleh Kepala Desa Balida lebih lanjut dari lokasi kegiatan.

” Untuk penyaluran BLT Dana Desa Balida diantarkan kerumah-rumah penerima sehingga tidak menyebabkan berkumpulnya warga,” ucapnya. Sedangkan untuk mengawali kegiatan pembagian BLT Dana Desa Balida yaitu di serahkan secara simolis oleh Bapak Bupati Balangan dan di dampingi oleh Camat Paringin.

BLT untuk Warga Miskin yang Terdampak COVID-19

Desa Balida – Musyawarah desa yang dihadiri oleh relawan covid di Kantor Kepala Desa berjalan dengan lancar, dimana Kepala Desa Balida sebagai narasumber untuk menjelaskan secara ditel tahapan, proses dan penerima BLT Desa Balida, Senin, 4/5/2020.
Pemerintah pusat telah merealokasikan atau pengalokasian kembali anggaran melalui dana desa (DD) untuk membantu perekonomian rumah tangga miskin (RTM) sebagai terdampak Covid-19.
Yakni, lewat program pencairan bantuan langsung tunai (BLT) untuk mencukupi kebutuhan hidup selama tiga bulan. Sesuai Permendes Nomor 6 Tahun 2020 revisi dari Permendes Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa, setiap penerima BLT akan mendapat bantuan senilai Rp 600 ribu selama tiga bulan. Dengan tahap pertama pencairan diupayakan di akhir bulan april.

Namun, di tengah proses pencairannya, pemerintah desa (pemdes) sebagai penyalur dan pemberi bantuan terus diwanti-wanti dalam mendata warganya. Bahkan, Pemkab Balangan meminta kepada 154 pemdes untuk memvalidasi secara jelas pendataan warga sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku. Yakni, warga miskin yang tidak tercantum dalam tiga program bantuan reguler. Meliputi program keluarga harapan (PKH), bantuan pangan nontunai (BPNT), dan kartu prakerja.

Kehati-hatian menjadi prinsip utama pendataan agar tepat sasaran. Sehingga, tidak terjadi kesenjangan dalam penyaluran bantuan non tunai tersebut. ’’Intinya harus hati-hati, tidak boleh ada tumpang tindih atau menerima dobel. Karena saat ini pemerintah pusat juga sedang mendata warga yang mendapat bantuan tambahan,’’ terang Sahridin, Kepala Desa Balida.

Di program BLT ini, basis data tergantung pada relawan Covid-19 yakni ketua RT sebagai ujung tumbak. Adapun relawan covid terdiri dari Ketua RT, BPD, Aparat Desa dan Linmas. Data ditiap RT ini yang ditekankan agar lebih diteliti lagi. Mengingat, pendataan ini menyasar warga secara langsung. Data tersebut selanjutnya diolah dan dibahas dalam musyawarah desa untuk validasi finalisasi dan penetapan penerima BLT. Data yang sudah ditandatangani kades lalu disahkan oleh bupati atau camat selambatnya 5 hari kerja.

Kepala Desa menegaskan, agar  data penerima secepatnya bisa selesaikan agar prosesnya ke jenjang berikutnya lebih mudah dan cepat sehingga penyaluranya juga lebih cepat kepada penerima. Mengingat, saat ini sudah memasuki bulan puasa.




Madihin Seni Sastra Lisan Banjar Hulu

Desa Balida - Saat ini Desa Balida mempunyai tokoh madihin yang juga salah satu Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dan Pariwisata Tingkat Nasional. Beliu tidak lain adalah Sahridin seorang Sastrawan yang mempelopori seni tradisi di Kalimantan Selatan khususnya di wilayah Kabupaten Balangan. Sahridin telah mempelopori sastra lisan banjar hulu yaitu seni madihin tradisional. Madihin sudah pernah beliu tampilkan di beberapa provinsi seperti Jakarta, Semarang dan Bandung. Berikut keterangan tentang seni madihin.

Madihin
Madihin berasal dari kata "madah" yang artinya mengucapkan syair. Dari kata "madah" timbul kata "madahan" kemudian berubah menjadi "madihin". Madihin berarti menuturkan syair atau pantan dengan disertai alat peramai berupa terbang. Syair madihin biasanya lahir secara spontan, disamping memang ada yang sudah terhafal, yang didapat secara turun temurun seperti syair Raragi Ampat Puluh. Dulu, dalam perlombaan madihin, Raragi Ampat Puluh termasuk syair wajib bagi peserta lomba untuk membawakannya.

Isi syair madihin itu macam-macam seperti nasihat, petuah, puji-pujian, sindiran dan humor.

Orang yang menyampaikan madihin disebut Pamadihinan. Pamadihinan ini biasanya laki-laki, bisa perempuan, biasanya sudah berusia tiga puluh tahun keatas, tetapi tidak menutup kemungkinan pamadihinan berusia di bawah tiga puluh tahun.

Sehingga pemadihin harus punya keterampilan dalam memainkan madihin. Keterampilan itu antara lain : Menguasai lagu khas madihin, terampil memukul terbang dengan irama sebagai pukulan pembuka atau membunga, pukulan memecah bunga, pukulan menyampaikan isi pesan, dan pukulan penutup. Seorang pemadihinan juga harus mempunyai suara atau vokal yang lantang dan merdu. Disamping hapal naskah syair, ia juga terampil berimpropisasi yaitu secara spontan menciptakan syair tanpa dipersiapkan terlebih dahulu.

Menurut keterangan dan pengalaman Sahridin selaku sastrawan banua, setahu beliu ada tiga pendapat mengenai asal mula madihin, yaitu :
  1. Ada yang mengatakan dari Kecamatan Angkinang yaitu di kampung Tawia, Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan. Pendapat ini berbijak pada bahwa Pamadihinan banyak tersebar di pelosok Kalimantan Selatan berasal dari kampung Tawia bernama Dulah Nyangnyang.
  2. Madihin berasal dari Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan sebab dahulu Dulah Nyanyang lama bermukim di Paringin dan mengembangkan madihin di sana.
  3. Madihin berasal dari utara Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia (Malaka), sebab madihin banyak dipengaruhi oleh syair malayu dan gendang tradisional semenanjung Malaka. Terbang (gendang) yang dipakai bamadihin ada persamaan dengan gendang yang dipakai oleh orang-orang Malaka dalam mengiringi syair pantun melayu.
Madihin sudah ada diperkirakan tahun 1800 yaitu setelah Islam masuk dan berkembang di Kalimantan Selatan. Lahirnya madihin banyak dipengaruhi oleh kesenian Islam yaitu kasidah dan syair-syair bercerita yang dibaca oleh masyarakat banjar.

Madihin umumnya berfungsi :
  1. Dahulunya menghibur raja atau pejabat istana. Syair yang dibawakan bersifat pujian.
  2. Sebagai hiburan masyarakat acara tertentu, misal hiburan habis panen, memeriahkan pengantin, peringatan hari besar nasional dan daerah.
  3. Sebagai nadar atau hajat mislanya bagi orang tua yang anaknya baru sembuh dari sakit, atau yang lainnya.
  4. Sebagai media informasi, penyampaian pesan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah misalnya keluarga berencana, pertanian, pendidikan, kesehatan, pemeliharaan nilai dan moral, wahana memperkokoh persatuan kesatuan dan lain-lain.
Struktur pergelaran madihin, yaitu terdiri atas :
  1. Pembukaan, yaitu melagukan sampiran sebuah pantun yang diawali dengan pukulan terbang yang disebut pukulan pembuka. Pembuka ini merupakan informasi tema yang akan dibawakan.
  2. Batabi, yaitu syairnya atau pantun yang isinya penghormatan pada penonton, pengantar, ucapan terima kasih, dan permohonan maaf dan ampun jika ada terdapat kesalahan atau kekeliruan dalam pergelaran.
  3. Mamacah Bunga, yaitu menyampaikan syair atau pantun sesuai dengan isi tema yang dibawakan.
  4. Penutup, yaitu kesempulan dari apa yang baru disampaikan sambil menghormati penonton, dan mohon famit serta ditutup dengan berupa pantun-pantun.
Contoh :

Pembukaan
Ilahi..............
lah riang..... lah riang riut
punduk ........... di hutan
riang riut punduk dihutan .............
kaguguran ...........
kaguguran buah timbatu...........

Batabi
maaf ampun hadirin barataan
baik nang di kiwa atawa di kanan
baik di balakang atawa di hadapan
baik laki-laki atawa babinian
baik urang tuha atawa kakanakan
baik nang badiri atawa badudukan
ulun madihin sahibar bacucubaan
tarima kasih ulun sampaiakan
kapada panitia mambari kasampatan
kalu tasalah harap dimaafakan
tapi kalu rami baampik barataan

Mamacah Bunga
baampik ...... barataan
babulik ka awal kita nang pamulaan
handak dipacah makna sasampiran
supaya pantun nyaman didangarakan
riang riut punduk dihutan

kaguguran buah timbatu
irang irut muntung kuwitan
mamadahi kaina anak minantu

minantu wayahini lain banar bahari
guring malandau lacit sampai tanghari
kada bamasak sabibigi nasi
dipadahi mintuha kada maasi

amunya malam tulak pamainan
padahal pamainan dilarang ulih tuhan
urang macam itu bungul babanaran
bisa-bisa mati dikarukut bidawang

Penutup
tarimakasih ulun sampaiakan
kapada hadirin sabarataan
mudahan sampian ingat kaganangan
kapada diri ulun tukang pamadihinan
ulun madihin sahibar mamadahakan
handak manurut tasarah pian barataan
sampai disini dahulu cukup sakian
mohon pamit ulun handak batahan

rama-rama batali banang
kutaliakan ka puhun kupang
sama-sama kita mangganang
mudahan kita batamuan pulang
ilahi .................................   

(Admin/MR)
Sumber : Sahridin (sastrawan)
 

Tradisi Baahui yang Hilang di Desa Balida

Desa Balida - Dulunya Desa Balida mempunyai tradisi yang sangat unik yaitu tradisi saat musim panen padi telah tiba yang dinamakan Baahui. Baahui adalah acara berbalas pantun pada saat merontokkan padi yang baru dipanen. Biasanya acara ini dilaksanakan pada malam hari dengan dihadiri oleh masyarakat sekitar sebagai penontonnya.

Dalam acara baahui terdapat dua kelompok perontok padi yang terdiri dari empat atau lima orang perkelompok. Dua kelompok ini beradu pantun sambil kaki bermain merontokkan padi yang diletakkan di atas panggung.

Dua kelompok yang akan baahui ini masing-masing menempati karampatai (panggung) yang disediakan berseberangan. Lantai panggung itu dibuat jarang (berjarak) dan dibawah panggung disediakan tikar tempat manampung butir padi berguguran hasil injakan kaki di atas panggung.

Untuk menentukan kelompok mana yang memulai atau menyudorkan pantunnya diadakan undian. Yang menang memulai mengucapkan pantunnya. Setelah itu terjadilah surungkupak (saling berbalas) pantun. Jika di antara salah satu kelompok tidak dapat membalas, maka terdengarlah teriakan "ahu-ahui" (yel-yel) dari kelompok yang menyodorkan pantun. "Ahui-ahui" juga akan terdengar lantang dari lawan bila mereka dapat membalas pantun yang dilemparkan kepada mereka.

Contoh Pantun Baahui:

Surung :
Kayu bangkawan dalam parahu
Daun kalaras di puntal-puntal
Amunya kawan bujuran tahu
Hiwan apa nang paling ganal

Balas/Jawab :
Daun kalaras di puntal-puntal
Tutujah ulak batangkai amas
Hiwan apa nang paling ganal
Gajah bangkak mati lamas

(Ura ahui-ahui, ura ahui-ahui)

 Saat ini masyarakat Desa Balida ingin kembali melestarikan budaya dan tradisi baaui tersebut. Apa lagi nantinya akan di dukung oleh Pemerintah Desa Terutama Kepala Desa Balida. (Admin/MR)

Sumber : Sahridin (Sastrawan Banua)